Jumat, 15 April 2011

Bayi Alergi Susu Sapi

Setiap orang bisa saja memiliki alergi susu sapi, namun kasus ini lebih banyak ditemui pada bayi. Statistik terakhir menyimpulkan bahwa sekitar 2-3% bayi memiliki alergi terhadap protein yang terdapat dalam susu sapi, yang notabene merupakan bahan dasar hampir seluruh susu formula. Namun kabar gembiranya, rata-rata alergi ini akan menghilang seiring dengan bertambahnya usia si bayi.
Jika Anda curiga bayi Anda memiliki alergi susu sapi, segera konsultasikan dengan dokter Anda tentang jenis pemeriksaan yang harus dilakukan dan alternatif untuk susu formulanya. Namun tidak ada salahnya jika kita sedikit mengupas dasar-dasar mengenai gangguan kesehatan yang satu ini…Bagaimana Proses Alergi Terjadi
Alergi susu sapi terjadi ketika sistem kekebalan (immune system) tubuh si bayi salah dalam menilai, sehingga ia menyangka susu sapi merupakan sesuatu yang membahayakan dan ia bereaksi untuk melawannya. Ini akhirnya memicu reaksi alergi, yang menyebabkan si bayi rewel, gelisah, serta timbul gejala-gejala alergi lainnya.
Oh ya, hampir seluruh bayi yang alergi susu sapi ternyata juga alergi terhadap susu kambing dan domba. Sebagian kecil lagi juga ternyata alergi terhadap protein yang terdapat dalam susu kedelai.
Statistik juga menunjukkan bahwa bayi yang menerima ASI Eksklusif memiliki resiko alergi susu sapi yang lebih rendah dibandingkan dengan yang mengkonsumsi susu formula. Para ahli mempercayai bahwa kelainan ini berkaitan dengan keturunan dan biasanya memang akan menghilang setelah si kecil berusia 3-5 tahun.
Gejala Alergi Susu Sapi
Gejala alergi susu sapi biasanya mulai muncul pada beberapa bulan pertama usia si bayi. Gejala ini bisa timbul langsung setelah meminum susu sapi, atau bisa hingga 7-10 hari sesudahnya. Yang terakhir ini lebih sering terjadi.
Diantara gejala yang timbul setelah 7-10 hari adalah:
1.Feses yang cair, kemungkinan mengandung darah
2.Muntah
3.Gelisah
4.Ruam atau bercak merah pada kulit
Biasanya memang lebih sulit terdeteksi, karena hampir sama dengan gejala gangguan kesehatan lainnya.
Pada alergi yang timbul langsung saat bayi meminum susu sapi, gejalanya antara lain:
1.Gelisah
2.Muntah
3.Pembengkakan
4.Nafas yang berdesing
5.Gatal-gatal dan ruam merah pada kulit
6.Diare disertai darah
Mendiagnosa Alergi Susu Sapi
Jika Anda mencurigai adanya alergi susu sapi pada bayi Anda, maka segeralah hubungi dokter Anda. Dia akan bertanya tentang adanya gangguan ini pada keluarga Anda dan akhirnya melakukan pemeriksaan langsung. Biasanya juga akan dilakukan beberapa jenis pemeriksaan lab, diantaranya melibatkan pemeriksaan terhadap feses, darah serta mungkin akan dimasukkan sejumlah kecil susu sapi ke bawah kulit si bayi.
Terkadang dokter akan meminta Anda menghentikan konsumsi susu sapi selama 1 minggu, kemudian setelah itu bayi Anda akan diminta untuk meminumnya sambil dilihat apakah ada reaksi setelahnya.
Jika Anda mencurigai adanya alergi susu sapi pada bayi Anda, maka segeralah hubungi dokter Anda. Dia akan bertanya tentang adanya gangguan ini pada keluarga Anda dan akhirnya melakukan pemeriksaan langsung. Biasanya juga akan dilakukan beberapa jenis pemeriksaan lab, diantaranya melibatkan pemeriksaan terhadap feses, darah serta mungkin akan dimasukkan sejumlah kecil susu sapi ke bawah kulit si bayi.
Cara Mengatasinya
Jika bayi Anda terbukti memiliki alergi susu sapi dan Anda menyusuinya, maka sangatlah penting bagi Anda sang Ibu untuk membatasi konsumsi seluruh produk yang terbuat dari susu sapi, karena protein susu sapi bisa tersalurkan melalui ASI Anda.
Jika bayi Anda meminum susu formula, dokter Anda mungkin akan meminta Anda untuk beralih ke susu formula yang terbuat dari kedelai. Jika bayi Anda alergi juga terhadap kedelai, maka bisa dicoba susu formula hipalergenik, dimana proteinnya sudah diuraikan menjadi partikel-partikel, sehingga tidak lagi dapat menyebabkan timbulnya alergi.
Setelah Anda beralih kepada susu formula yang aman, biasanya gejala alergi susu sapi akan menghilang dalam 2-4 minggu…
sumber:www.tipsbayi.com
Selengkapnya...

Rabu, 13 April 2011

Awas, Susu Balita Bisa Picu Obesitas

Sejumlah susu formula diteliti memiliki kandungan gula yang melampaui kebutuhan anak. VIVAnews - Sebuah produk susu fomula untuk balita berusia satu hingga tiga tahun ditarik dari pasaran Amerika Serikat karena dituding menyebabkan kegemukan pada anak. Susu formula tersebut ditengarai memiliki kandungan gula yang melampaui kebutuhan anak, seperti halnya permen.

Sebuah produsen susu formula anak untuk usia 12-36 bulan, mengklaim susu formula buatannya berisi lebih dari 25 zat tambahan untuk mendukung pertumbuhan otak dan tubuh anak. Namun, kandungan gula yang terlalu tinggi pada produk, dinilai menyebabkan obesitas pada bayi.

Juru bicara produsen susu yang populer ini, Chris Perille, menganjurkan agar menghentikan konsumsi susu formula cokelat karena sifatnya yang mempengaruhi emosional. "Pengaruhnya menyerupai permen dan hal yang tidak bermanfaat lainnya," ujarnya seperti dikutip dari laman ABCnews.

Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan Rabu waktu setempat, produsen susu mengakui telah terjadi kesalahpahaman yang melibatkan konsumen mengenai produk tersebut.

Meski menarik produk susu cokelatnya dari pasaran, produsen ini masih akan melanjutkan menjual susu formula rasa vanila dengan kandungan gula 16-17 gram dan tiga jenis susu formula balita dan anak lainnya dengan kandungan gula 10-11 gram.

Pakar Nutrisi dan penulis 'What to Eat' Marion Nestle mengatakan produsen menambahkan bahan tertentu seperti lutein, lycopene dan beta karoten pada formula hanya meningkatkan harga susu. Hal ini tidak mempengaruhi kesehatan bayi dan balita.

"Harga susu menjadi mahal, tetapi tidak bermanfaat," katanya. Untuk itu, ia menyarankan agar anak makan menu yang bervariasi. "Tidak ada satupun makanan yang mampu memberi segalanya. Mereka harus makan berbagai jenis makanan untuk mendapat manfaat kesehatan."

Sebuah studi terbaru Institut Kedokteran menyebutkan epidemi obesitas dan diabetes tipe 2 meningkat di kalangan anak karena standar makanan yang berubah. (adi)
• VIVAnews
Selengkapnya...

Selasa, 12 April 2011

Benarkah Berenang Tingkatkan Kecerdasan Anak

Anak yang diajarkan berenang sejak kecil memiliki IQ lebih tinggi. Benarkah?
VIVAnews - Mengajarkan anak berenang sejak dini ternyata memiliki banyak manfaat. Selain menyehatkan, aktivitas olahraga air itu juga bermanfaat merangsang perkembangan otak anak. Tim peneliti di Queensland percaya bahwa berenang bisa meningkatkan kecerdasan anak.

Sebuah proyek penelitian Universitas Griffith menganalisa lebih 10 ribu anak lima tahun ke bawah untuk mengetahui pengaruh berenang terhadap perkembangan fisik, sosial, intelektual, dan kemampuan bahasa.

Seperti dilansir dari Times of India, Profesor Robyn Jorgensen mengatakan bahwa anak yang memiliki rutinitas berenang cenderung lebih percaya diri dibandingkan dengan anak seusianya yang tak memiliki rutinitas tersebut.

Penelitian ini sudah berjalan setidaknya dua tahun untuk merekam perkembangan anak-anak selama belajar berenang. "Data awal yang kami dapat memberikan kabar perkembangan cukup positif," katanya. "Bahkan anak-anak yang ikut sekolah berenang terlihat berkembang lebih bagus dalam kehidupannya."

Jorgensen mengatakan penelitian juga memantau 60 perenang muda yang diambil secara acak dari sejumlah sekolah di Australia untuk mendukung penelitian. Berdasarkan penelitian, anak yang sejak kecil diajarkan berenang memiliki IQ lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak diajari berenang sejak kecil.
• VIVAnews Selengkapnya...

Cara Sederhana Atasi Bayi yang Sulit Tidur

Bayi yang sulit tidur juga mempengaruhi kondisi sang ibu.
VIVAnews - Bayi membutuhkan cukup tidur agar dapat tumbuh optimal. Tidak heran jika banyak orang yang mengatakan salah satu ciri bayi sehat adalah banyak tidur. Tetapi pada kenyataannya, tidak mudah membuat bayi unntuk terlelap.

Tidak jarang para orang tua mengalami kesulitan untuk menidurkan sang buah hati. Bayi yang susah tidur tidak saja merugikan si bayi tapi juga kurang baik bagi orang tua. Di era modern sekarang ini, hal itu menjadi kendala bagi bunda yang bekerja. Si ibu sering kurang tidur dan keletihan, yang menyebabkan kurangnya konsentrasi saat bekerja.

Tetapi, jangan kuatir. Masalah itu dapat diatasi dengan beberapa cara yang simpel seperti dikutip dari Modernmom.com:

Biasakan Rutinitas
Tidur yang teratur dan terstruktur dapat membantu bayi tertidur lebih mudah. Lakukan kebiasaan yang sama setiap hari, misalnya sehabis bayi dimandikan langsung diberi minum susu sambil ditidurkan.

Ada baiknya sambil didendangkan lagu. Begitu bayi sudah hampir terlelap, langsung letakkan ke tempat tidurnya. Bayi yang terbiasa tertidur sendiri akan melatihnya menjadi pribadi yang tenang dan juga membantu jam biologis.

Dibedong saat Tidur
Kain bedong akan membuat bayi merasa hangat dan nyaman sehingga ia mudah tertidur. Selain itu, dengan dibedong juga dapat mecegah bayi mencakar atau menyakiti wajahnya saat ia tidur.

Matikan Lampu
Suasana gelap akan membuat bayi tertidur. Cahaya lampu dapat mengalihkan perhatiannya, sebab bayi senang melihat sesuatu yang terang. Selain itu, dengan mematikan lampu saat tidur juga dapat melatihnya untuk dapat membedakan mana siang dan malam. Dengan demikian dia mengerti jika gelap maka itu waktunya tidur.
• VIVAnews Selengkapnya...

Senin, 11 April 2011

Air Putih Tidak Baik Untuk Bayi

Kendati merupakan minuman wajib bagi orang dewasa, air putih ternyata bisa berbahaya bagi bayi. Jika Anda memiliki bayi di bawah usia enam bulan berhati-hatilah.

Pasalnya, air minum dapat menyebabkan intoksikasi atau keracunan.

“Biarpun usianya masih sangat belia, bayi telah mempunyai refleks haus secara utuh atau keinginan untuk minum,” kata Dr Jennifer Anders dari Pusat Anak-anak John Hopkins, Baltimore. Yang benar adalah memberikan ASI atau susu formula ketika mereka haus.

Menurut Anders, ginjal bayi di bawah enam bulan belum siap. Sehingga jika terlalu banyak menerima air, secara otomatis akan melepaskan sodium bersama kelebihan air itu.

Sementara kehilangan sodium dapat mempengaruhi aktifitas otak. Hal ini juga merupakan gejala keracunan air, yaitu lekas marah, kantuk, dan masalah kejiwaan lainya.

Adapun gejala lainnya adalah suhu tubuh rendah, muka bengkak atau membesar, dan kejang-kejang. Seringkali beberapa gejala awal itu tak kentara, maka kejang-kejang bisa jadi petunjuk pertama untuk para orang tua.

Segera larikan anak ke rumah sakit atau puskesmas untuk mendapatkan perawatan medis sehingga dampak kejang-kejang tidak akan permanen.

Anders juga menganjurkan, selain air putih, ada baiknya jika para orangtua menghindari pemakaian susu formula yang terlalu cair atau minuman kesehatan anak-anak yang mengandung elektrolit.

Namun demikian, dalam beberapa kasus pemeberian sedikit air juga diperlukan kepada bayi yang lebih tua. Misalnya untuk sembelit atau cuaca panas.

Tetap saja, konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter anak. Sebab, lanjut Anders, ada takaran untuk memberikan air putih, mungkin hanya sekitar satu sendok makan saja.
sumber:http://kesehatan.myhendra.web.id/2010/05/air-putih-tidak-baik-bagi-bayi.html Selengkapnya...